30,25 Persen Desa di Sulbar Masih Blank Spot, Wakil Ketua DPRD Dorong Percepatan Infrastruktur Internet Lewat BAKTI Komdigi

Penulis: Yasir  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:57:01 WIB
Wakil Ketua DPRD Sulbar, Suraidah Suhardi, menyampaikan data 30,25 persen desa di Sulawesi Barat masih masuk kategori blank spot dalam kegiatan Senter KIM di Pasangkayu, Jumat (21/8/2026).

PASANGKAYU — Persoalan akses internet di Sulawesi Barat bukan lagi sekadar soal sinyal, melainkan isu keadilan pembangunan. Wakil Ketua DPRD Sulbar, Suraidah Suhardi, membeberkan fakta bahwa hampir sepertiga desa di provinsi tersebut masih gelap gulita akan konektivitas.

Dalam kegiatan Senter KIM di Pasangkayu pada Jumat, 21 Agustus 2026, ia memaparkan bahwa pada 2025 lalu, sekitar 30,25 persen desa masih tergolong blank spot atau lemah sinyal. Lebih memprihatinkan lagi, 38,67 persen fasilitas layanan publik seperti sekolah dan puskesmas belum terhubung ke internet.

APBD Tak Cukup, Sulbar Andalkan Dukungan Pusat

Suraidah menegaskan bahwa internet saat ini telah menjadi infrastruktur kehidupan yang menghubungkan masyarakat dengan pendidikan, pertanian, UMKM, hingga layanan pemerintahan. Namun, ia mengakui keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala utama.

"Untuk APBD itu tidak cukup untuk memenuhi infrastruktur jaringan dengan wilayah terbilang luas," ujarnya.

Karena itu, Pemprov Sulbar di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka terus mendorong agar persoalan infrastruktur jaringan mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Salah satu jalur yang diupayakan adalah kerja sama dengan BAKTI Komdigi.

"Salah satunya melalui kerja sama dengan BAKTI Komdigi, ini terus kita dorong bagaimana persoalan blank spot di daerah dapat kita atasi secara bertahap," pungkasnya.

KIM Diminta Naik Kelas Jadi Penggerak Literasi Digital

Di tengah upaya pemerataan sinyal, Suraidah juga mengingatkan adanya tantangan baru berupa derasnya arus informasi dan maraknya hoaks. Ia mendorong Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) untuk tidak berhenti menjadi penyebar informasi.

Menurutnya, KIM harus naik kelas menjadi penggerak literasi digital yang mampu menjembatani hubungan antara pemerintah, masyarakat, desa, hingga dunia usaha. Tugas ini dinilai krusial agar konektivitas yang terbangun benar-benar berdampak pada kesejahteraan.

"Tugas bersama saat ini bukan hanya memastikan warga mendapatkan sinyal, tetapi menjamin masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk maju. Konektivitas digital diharapkan betul-betul terhubung dengan pelayanan publik, akses pasar, pengetahuan, dan peluang kesejahteraan," jelasnya.

Reporter: Yasir
Sumber: terassulbar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top