SULAWESI BARAT — Forum yang berlangsung di King Abdulaziz International Conference Center itu dijadwalkan berbarengan dengan forum rantai pasok global PBB pada pekan yang sama. Dua acara yang berlokasi di tempat yang sama ini diharapkan menarik para pembuat kebijakan, eksekutif industri, dan investor dari seluruh dunia.
Pengumuman jadwal yang lebih awal ini menyusul sukses edisi perdana pada 2024. Saat itu, lebih dari 13.000 peserta dari 30 negara hadir, dengan 140 pembicara dan 80 eksibitor. Edisi perdana menghasilkan 67 perjanjian kerja sama dan nota kesepahaman senilai lebih dari SAR16 miliar atau sekitar US$4,3 miliar.
Penyelenggaraan forum ini sejalan dengan target Visi 2030 yang dicanangkan Kerajaan Arab Saudi. Pemerintah setempat ingin memperkuat peran negara itu sebagai hub logistik yang menghubungkan berbagai benua.
Agenda utama forum akan berfokus pada inovasi layanan logistik, konektivitas global yang terintegrasi, dan keberlanjutan rantai pasok. Kementerian Transportasi dan Layanan Logistik menyatakan forum ini juga akan menjadi platform peluncuran inisiatif strategis dan pembentukan kemitraan internasional.
Bagi pelaku bisnis dan investor, GLF 2026 menjadi ajang untuk menjajaki peluang kemitraan di sektor logistik dan perdagangan. Angka kerja sama senilai lebih dari SAR16 miliar pada edisi pertama menjadi indikator besarnya potensi transaksi yang bisa dihasilkan.
Forum ini juga relevan bagi Indonesia yang tengah mengembangkan konektivitas logistik nasional dan memperkuat peran sebagai poros maritim. Kolaborasi antar negara dalam forum ini bisa menjadi referensi bagi pengembangan ekosistem logistik yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Para mitra dan profesional industri diundang untuk menyimpan tanggal penyelenggaraan kedua acara tersebut. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs resmi forum di www.glforum.org.