SULAWESI BARAT — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan Indonesia Game Rating System (IGRS) aktif kembali pada 2026. Namun, belum ada tanggal pasti karena evaluasi tidak hanya menyentuh aspek teknis sistem, tapi juga kebijakan dan tata kelola secara menyeluruh.
"Kalau persis timeline buat reaktivasinya kita belum bisa sampaikan, tapi di tahun ini," ujar Ketua Tim Pengembangan Ekosistem Gim Komdigi Tita Ayuditya Surya di sela acara Hari Game Indonesia, Sabtu (8/8/2026).
Proses evaluasi IGRS berjalan lintas kementerian dan lembaga. Komdigi melibatkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) serta Kementerian Ekonomi Kreatif sejak awal.
Industri game, asosiasi, komunitas, hingga perwakilan orang tua juga dilibatkan. Alasannya, IGRS berfungsi sebagai acuan utama orang tua untuk menilai kesesuaian game berdasarkan kelompok umur.
Pelibatan banyak pihak ini diharapkan menghasilkan sistem klasifikasi yang lebih kredibel dibanding sebelumnya.
Komdigi memutuskan menunda sementara proses rating IGRS pada April 2026. Keputusan ini diambil setelah sistem tersebut dikritik karena dinilai tidak tepat dalam memberikan klasifikasi terhadap sejumlah game.
Investigasi internal dan eksternal pun digelar atas arahan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi Sonny Hendra Sudaryana saat itu menegaskan penundaan bersifat sementara.
"Langkah ini kami ambil untuk memastikan bahwa ke depan sistem IGRS dapat berjalan lebih kuat, lebih kredibel, dan dapat dipercaya oleh seluruh pemangku kepentingan," kata Sonny.
Komdigi menegaskan penundaan rating tidak berdampak pada ketersediaan game yang sudah beroperasi di Indonesia. Seluruh game tetap bisa dimainkan normal.
"Perlu di-highlight, nggak ada yang diblokir dari game-game. Dari awal pun nggak ada yang diblokir karena pemblokiran itu mekanismenya berbeda," jelas Sonny.
Investigasi yang berlangsung berfokus pada sistem, proses, hingga tata kelola IGRS. Komdigi berjanji memberikan perkembangan evaluasi kepada publik secara berkala.
Dengan target reaktivasi tahun ini, pemain dan orang tua di Indonesia masih menunggu kepastian kapan sistem klasifikasi usia yang baru benar-benar diterapkan. Yang jelas, selama masa transisi ini, tidak ada game yang hilang dari platform.