Inflasi Juli 2026 Diprediksi Landai di 0,03 Persen, Bank Mandiri Sebut Pangan dan Tarif Listrik Jadi Penahan

Penulis: Ragil  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 12:15:01 WIB
Petugas memeriksa harga cabai di pasar tradisional, seiring normalisasi pasokan pangan menahan laju inflasi Juli 2026.

SULAWESI BARAT — Proyeksi ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran daya beli masyarakat kelas menengah yang belakangan melambat. Normalisasi harga pangan setelah periode Lebaran dan stabilitas tarif listrik menjadi dua faktor utama yang disebut Andry menahan laju inflasi. Jika realisasi BPS nanti sesuai prediksi, inflasi tahun kalender (year-to-date) hingga Juli 2026 akan berada di kisaran 1,2 persen, memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk tetap fokus pada stabilitas nilai tukar rupiah tanpa harus terburu-buru menaikkan suku bunga.

Faktor Peredam: Pangan dan Tarif Listrik yang Terkendali

Andry menjelaskan, kontributor utama penahan inflasi bulan lalu berasal dari kelompok volatile food. Pasokan cabai dan bawang merah yang sempat bergejolak di awal musim kemarau kini mulai normal seiring masuknya panen dari sejumlah sentra produksi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Selain itu, tidak adanya penyesuaian tarif dasar listrik untuk pelanggan nonsubsidi PT PLN (Persero) pada kuartal III 2026 membuat komponen administered prices relatif stabil. "Ini sinyal positif bahwa daya beli tidak tergerus lebih dalam, terutama untuk kelompok pengeluaran perumahan yang porsinya besar dalam keranjang IHK," ujar Andry dalam riset yang dikutip, Senin (3/8).

Pola Musiman: Membandingkan dengan Juli Tahun Lalu

Proyeksi inflasi 0,03 persen ini juga sejalan dengan pola historis lima tahun terakhir, di mana bulan Juli cenderung mengalami deflasi atau inflasi tipis. Namun, Andry mengingatkan ada perbedaan signifikan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada Juli 2025, inflasi bulanan tercatat lebih tinggi karena efek pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 16.500 per dolar AS, mendorong kenaikan harga barang elektronik dan peralatan rumah tangga.

Kondisi nilai tukar yang lebih stabil di kisaran Rp 16.100-Rp 16.200 sepanjang Juli 2026 membuat imported inflation kali ini lebih minim. Perbaikan ini dinilai penting karena menjaga harga barang-barang yang komponennya masih bergantung pada impor, seperti gawai dan suku cadang kendaraan.

Proyeksi per Komponen dan Dampak ke Sektor Riil

Secara lebih terperinci, Bank Mandiri memperkirakan inflasi inti (core inflation) akan bertahan di level 2,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini masih berada dalam rentang target BI sebesar 2,5 persen plus minus satu persen.

Sementara itu, kelompok pendidikan diperkirakan memberikan sumbangan inflasi tertinggi pada bulan lalu, seiring dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027. Biaya SPP sekolah swasta di Jabodetabek dan kota-kota besar mengalami kenaikan rata-rata 4-6 persen, namun dampaknya terhadap inflasi keseluruhan tertahan oleh penurunan harga di sektor transportasi.

Bagi pelaku pasar, data inflasi yang rendah ini akan menjadi katalis positif bagi obligasi pemerintah. Imbal hasil riil yang menarik ditambah inflasi yang landai membuat investor asing berpotensi kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada Agustus ini.

Dengan inflasi yang terkendali, pemerintah memiliki ruang fiskal lebih longgar untuk menyalurkan subsidi dan kompensasi energi tanpa khawatir memicu gejolak harga. Keputusan untuk tidak menaikkan tarif listrik PLN pada kuartal III menjadi bukti bahwa pemerintah memilih menjaga stabilitas ketimbang mengejar penerimaan jangka pendek, sebuah kebijakan yang dinilai tepat di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga.

Reporter: Ragil
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top