MAMUJU — Puluhan kader posyandu di Kabupaten Mamuju kini dibekali keterampilan teknis baru melalui Pelatihan 25 Kompetensi Dasar yang digelar Dinas Sosial P3APMD Provinsi Sulawesi Barat. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 30-31 Juli 2026, ini secara resmi ditutup oleh Kepala Dinas Hj. Darmawati, S.Pi., MM, Jumat kemarin.
Dalam arahannya, Darmawati menegaskan bahwa posyandu tidak lagi bisa dipandang sebagai tempat penimbangan balita semata. Melalui 25 kompetensi dasar, peran kader ditransformasikan menjadi tenaga kesehatan komunitas yang profesional.
Kompetensi yang diajarkan mencakup layanan untuk ibu hamil, bayi, balita, usia sekolah, remaja, hingga lansia. Cakupan ini jauh lebih luas dari fungsi posyandu pada umumnya.
“Melalui 25 kompetensi ini, kita mentransformasi peran kader dari sekadar relawan menjadi tenaga kesehatan komunitas yang mampu melakukan deteksi dini stunting, pemantauan tumbuh kembang, hingga skrining penyakit tidak menular pada lansia,” jelas Darmawati di hadapan peserta.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program berkelanjutan untuk memastikan setiap posyandu di Sulawesi Barat memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM). Pemerintah provinsi menargetkan layanan kesehatan di tingkat desa mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara mandiri.
“Kader posyandu adalah pahlawan kesehatan di tingkat tapak. Melalui pemenuhan 25 kompetensi dasar ini, kita ingin memastikan pelayanan posyandu semakin berkualitas, terintegrasi, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam penanganan stunting dan peningkatan kesejahteraan keluarga,” tegasnya.
Darmawati berpesan agar ilmu yang diperoleh langsung diterapkan di desa dan kelurahan masing-masing dengan semangat gotong royong. Ia menekankan pentingnya menyamakan persepsi bahwa posyandu adalah pusat layanan kesehatan primer yang holistik.
Penutupan kegiatan ditandai dengan penyerahan sertifikat pelatihan secara simbolis kepada perwakilan peserta. Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama antara pejabat Dinsos P3APMD Sulbar, instruktur, dan seluruh peserta.
Dengan bekal kompetensi yang mumpuni, diharapkan para kader mampu bekerja lebih mandiri dalam menangani persoalan kesehatan masyarakat di wilayahnya masing-masing.