SULAWESI BARAT — Jaksa Harris County, Texas, resmi mendakwa Michael David Butler (44) dengan satu tuduhan manslaughter atas kematian Martha Avila pada 19 Juni lalu. Butler ditahan dengan jaminan Rp 2,4 miliar dan akan menjalani sidang perdana Senin depan. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman 2 hingga 20 tahun penjara.
Menurut dokumen pengadilan yang dirilis pekan lalu, Butler sedang melakukan pengiriman DoorDash saat kejadian. Setelah drop-off terakhir, ia mengaktifkan kembali FSD. Sistem berjalan normal hingga Butler menekan pedal gas saat mendekati rambu stop — sebuah kebiasaan umum pengguna FSD yang mengeluh sistem terlalu lambat berhenti penuh.
Beberapa detik kemudian, saat FSD menyalakan sein dan mulai berbelok kiri menuju titik pengiriman berikutnya, Butler kembali menginjak pedal gas. Alih-alih mengikuti belokan, mobil meluncur lurus memasuki cul-de-sac. Data black box menunjukkan pedal gas ditekan penuh selama enam detik. Model 3 melesat hingga 117 km/jam — dua kali lipat batas kecepatan kawasan — menabrak trotoar, terbang, dan menembus bagian depan rumah Avila. Rem tidak pernah disentuh semenit terakhir.
Penyelidik tidak menemukan kerusakan mekanis, pedal macet, atau gangguan medis pada Butler. Tes narkoba dan alkohol juga negatif. Namun, jaksa mengantongi bukti kunci: riwayat pencarian Google di ponsel Butler beberapa pekan sebelum kecelakaan. Ia mencari “Tesla fsd not aggressive enough 2026”, “FSD is not aggressive enough for city driving”, dan “Tesla fsd too timid”.
Jaksa menggunakan bukti ini untuk menunjukkan Butler sengaja mengoverride batas kecepatan FSD karena frustrasi dengan gaya berkendara sistem yang dianggapnya terlalu hati-hati. Kepada paramedis, Butler mengaku hanya ingat “mengganti musik” dan melihat layar navigasi sebelum “pingsan”.
Kasus ini menyoroti masalah fundamental sistem FSD Tesla: inkonsistensi. Di satu sisi, Tesla kini mengirim mobil baru dengan profil “Sloth” yang melaju di bawah batas kecepatan dan kerap melakukan pengereman hantu (phantom braking) untuk bayangan atau jembatan. Banyak pemilik mengeluh sistem terlalu lamban untuk dipakai di lalu lintas kota.
Di sisi lain, mode “Mad Max” FSD diketahui melaju 25-48 km/jam di atas batas kecepatan — perilaku yang langsung mendapat sorotan NHTSA dalam sehari setelah dirilis. Pengemudi tidak pernah tahu apakah sistem akan merangkak atau ngebut. Kondisi ini membentuk kebiasaan berbahaya: pengemudi menjaga kaki tetap siap di pedal gas untuk “membetulkan” kecepatan, sementara FSD tetap mengendalikan setir dan navigasi.
Meski Butler jelas bersalah secara pidana, kasus ini tidak otomatis membersihkan Tesla. Keluarga Avila telah menggugat Tesla secara perdata dengan merujuk putusan landmark Florida senilai Rp 3,9 triliun. Dalam kasus itu, juri menempatkan 67% kesalahan pada pengemudi yang menyalahgunakan Autopilot, namun tetap membebankan 33% tanggung jawab pada Tesla karena pemasaran dan sistem pemantauan pengemudi yang lemah menumbuhkan kepercayaan palsu.
Faktanya, FSD tetap mengendalikan setir hingga Butler membatalkan belokan. “Pengemudi menginjak pedal gas” memang benar, tapi itu bukan pembebasan bagi Tesla seperti yang kerap diklaim perusahaan. Tanggung jawab pidana pengemudi dan tanggung jawab perdata pabrikan bisa berjalan beriringan.