Alih-alih menyusuri grafik dan dasbor yang rumit, kreator kini bisa mengajukan pertanyaan dalam bentuk percakapan. "Kapan saya harus posting?" atau "Apa yang orang-orang katakan di komentar saya?" adalah contoh pertanyaan yang bisa langsung dijawab oleh asisten AI ini. Meta menyebut sistem ini mampu menggali lebih dalam — misalnya melacak perubahan demografi audiens dari waktu ke waktu — dan memberikan saran perbaikan yang spesifik.
Fitur ini tidak berhenti pada data historis. Asisten AI juga bisa membantu kreator menemukan ide konten baru dengan merujuk pada tren yang sedang naik. Meta memberi contoh: asisten dapat menyarankan penggunaan audio yang viral atau membuat konten yang merespons momen budaya tertentu.
Dengan begitu, kreator tidak perlu lagi membuka aplikasi pihak ketiga seperti ChatGPT hanya sekadar untuk brainstorming. Semua proses — dari riset ide hingga evaluasi performa — bisa dilakukan di dalam ekosistem Facebook.
Bersamaan dengan peluncuran asisten AI, Meta juga memperluas dukungan bahasa untuk fitur AI-translated Reels. Bahasa Indonesia menjadi salah satu dari lima bahasa baru yang tersedia, bersama Arab, Prancis, Thai, dan Vietnam. Fitur yang sudah diperkenalkan tahun lalu ini memungkinkan suara dan nada bicara kreator tetap terjaga saat video diterjemahkan secara otomatis ke bahasa lain.
Kreator bahkan bisa mengaktifkan fitur lip-sync agar gerakan bibir mereka selaras dengan hasil terjemahan — membuatnya tampak lebih alami. Meta mengklaim lebih dari setengah miliar pengguna Facebook kini menonton video yang diterjemahkan oleh AI setiap minggunya.
Langkah Meta ini tidak bisa dilepaskan dari perang merebut perhatian kreator. TikTok dan YouTube telah lama menjadi pesaing utama Facebook dalam hal konten video pendek dan engagement komunitas. Dengan menyediakan asisten AI yang membantu kreator mengelola akun tanpa harus keluar aplikasi, Meta berharap kreator tetap setia dan lebih sering memposting konten.
Semakin sering kreator mengunggah konten, semakin tinggi pula potensi keterlibatan pengguna biasa — dan itu artinya lebih banyak waktu yang dihabiskan di platform.
Belum ada informasi kapan fitur asisten AI ini akan menjangkau kreator di Indonesia. Namun, kehadiran dukungan bahasa Indonesia untuk AI-translated Reels setidaknya menunjukkan bahwa pasar lokal menjadi perhatian Meta dalam pengembangan fitur berikutnya.