MAMUJU — Harga bahan pokok yang mulai merangkak naik mendekati Idul Adha membuat warga Kota Mamuju berbondong-bondong mendatangi program intervensi pasar ini. Mereka mengincar komoditas seperti beras SPHP, minyak goreng, gula pasir, dan terigu yang dijual di bawah harga pasar tradisional.
Selisih harga yang mencapai beberapa ribu rupiah per kilogram menjadi daya tarik utama. Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dalam kemasan 5 kg misalnya, dibanderol Rp 58.000. Sementara Minyakita hanya Rp 15.000 per liter dan gula pasir Rp 17.500 per kilogram.
Fatimah (45), seorang warga Mamuju, mengaku sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan stok. "Menjelang lebaran begini, harga beras dan minyak di pasar mulai naik. Adanya pasar murah dari Bulog ini betul-betul menolong dapur kami," ujarnya saat mengantre, Senin (25/5/2026).
Produk beras SPHP dan minyak goreng menjadi buruan utama warga. Kedua komoditas itu diketahui ludes dalam waktu singkat setelah lokasi GPM dibuka.
Untuk memastikan penyaluran tepat sasaran, petugas Bulog di lapangan menerapkan sistem pembatasan kuota pembelian per orang. Langkah ini sekaligus mencegah aksi borong oleh para spekulan yang kerap memanfaatkan momen menjelang hari raya.
Asisten Manajer Pemasaran Perum Bulog KC Mamuju, Kartono Wijaya P, menegaskan bahwa stok pangan di gudang masih sangat aman. "Kami menjamin bahwa ketahanan stok pangan di gudang masih sangat aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tidak hanya untuk menyambut Idul Adha tetapi hingga beberapa bulan ke depan," ungkapnya.
Gerakan Pangan Murah ini merupakan komitmen Bulog untuk hadir di tengah masyarakat pada momen krusial. Dengan memotong jalur distribusi, harga komoditas bisa langsung menyentuh masyarakat di harga dasar.
Selain meringankan beban warga, program ini juga menjadi instrumen penting bagi pemerintah daerah dalam mengendalikan laju inflasi di Sulawesi Barat, khususnya di Ibu Kota Mamuju. Warga pun diimbau untuk berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan.